Judul yang saya pergunakan dalam tulisan ini adalah pelafalan Indonesia dari istilah bahasa Inggris Frequency Response. Istilah ini agak membuat dahi berkerut, jika harus dicari padanannya dalam bahasa Indonesia.
Tetapi saya memberanikan diri untuk memadankan istilah aslinya ke dalam bahasa Indonesia sebagai Frekuensi Tertanggap. Mengapa bukan tanggapan terhadap frekuensi? Atau, mengapa tidak dipadankan dengan frekuensi yang ditanggapi? Padanan dalam bahasa Indonesia yang saya pilih adalah dengan merunut batasan atau per definisi pengertian frequency response.
Jika kita menilik audio pro sebagai sebuah sistem, tentu kita maklum bahwa kita akan berhadapan dengan peralatan audio yang jumlahnya jelas lebih dari satu macam. Termasuk, kabel tentu saja. Prinsip kerja utama tiap peranti audio dalam sebuah sistem pada prinsipnya adalah menerima dan mengalirkan signal bunyi. Entah dengan sistem analog maupun sudah di decoding dengan digitalisasi. Bicara tentang signal bunyi, mau tidak mau kita bicara mengenai bentuk fisik bunyi sebagai sebuah materi, yakni gelombang bunyi. Sifat esensial dari gelombang bunyi adalah bahwa bunyi memiliki frekuensi. Dengan demikian, berbicara tentang frekuensi tertanggap sama saja dengan membuka semesta pembicaraan mengenai hal yang krusial dan inti dari audio pro sebagai sebuah sistem.
Frekuensi tertanggap dari sebuah peranti audio diberi batasan sebagai relasi antara input dan output dengan frekuensi signal bunyi dan amplitudonya. Jadi, dalam menelaah frekuensi tertanggap, kita berhadapan dengan besaran input, output, dan juga elemen fisik gelombang bunyi. Dalam pengertian di lapangan, frekuensi tertanggap dimaknai sebagai range dari signal frekuensi yang mampu ditanggapi oleh input sampai output sebuah peranti audio.
sumber : audiopro